Humbahas,Lprinews.com – Di tepian Sungai Kecamatan Tarabintang, di bawah langit Humbang Hasundutan, Sumatera Utara yang mulai beranjak senja, seorang pria tua duduk termenung. Pandangannya kosong, menatap riak air yang mengalir tenang. Tangannya yang mulai keriput memegang jala yang tak lagi sering ia gunakan. Namanya Oppung Tumanggor, seorang nelayan yang sejak kecil akrab dengan air di sungai ini.
“Dulu, setiap pagi sebelum matahari naik tinggi, kami bisa menangkap Ihan Batak hanya dengan melempar jala. Sekarang? Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya lagi,” keluhnya dengan suara parau.
Ihan Batak, ikan air tawar yang sakral bagi masyarakat Batak, perlahan menghilang dari perairan Humbang Hasundutan. Ikan yang dahulu menjadi bagian dari ritual adat, perjamuan suci, dan simbol kemakmuran itu kini semakin sulit ditemukan. Para tetua adat mengingatkan,
lenyapnya Ihan Batak bukan sekadar hilangnya satu spesies, tetapi juga hilangnya warisan budaya.
Di kecamatan Dolok sanggul dan Baktiraja, para nelayan lainnya mengeluhkan hal yang sama. Dahulu, mereka bisa mencari Ihan Batak di Sungai Aek Silang dan Danau Toba. Namun kini, harapan mereka menemukan ikan tersebut semakin Punah.
“Kami paham, zaman berubah. Pembangunan memang perlu. Tapi ketika PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro) mulai berdiri di daerah ini, ekosistem sungai terganggu. Air yang dulu jernih dan segar kini berubah. Banyak ikan yang tak bisa bertahan,” ujar Simamora, nelayan lainnya, dengan raut wajah sedih.
Para peneliti lingkungan pun mengamini bahwa pembangunan PLTM di beberapa titik di Humbang Hasundutan memberi dampak besar terhadap ekosistem sungai. Arus air yang berubah, sedimentasi yang meningkat, serta pencemaran menyebabkan habitat alami Ihan Batak rusak parah.
Masyarakat Batak, terutama mereka yang masih menjaga adat dan tradisi, merasa kehilangan. Tanpa Ihan Batak, banyak ritual adat yang kehilangan maknanya. “Kami ingin cucu-cucu kami masih bisa melihat dan menikmati Ihan Batak seperti kami dulu. Tapi jika begini terus, yang tersisa hanyalah cerita,” kata Oppung Tumanggor, matanya berkaca-kaca.
Mereka berharap pemerintah dan masyarakat lebih peduli terhadap keberlangsungan Ihan Batak. Upaya konservasi harus segera dilakukan sebelum segalanya terlambat. Sebab, hilangnya Ihan Batak bukan sekadar kehilangan satu jenis ikan, tapi juga kehilangan identitas dan warisan leluhur yang tak ternilai harganya. ( Maruarar Pangaribuan)












