Scroll untuk baca artikel


Berita

Layang – Layang Raksasa Warga Negara Singapura Warisan Budaya Langit yang Menghidupkan Wisata Bahari Tanjungpinang

436
×

Layang – Layang Raksasa Warga Negara Singapura Warisan Budaya Langit yang Menghidupkan Wisata Bahari Tanjungpinang

Sebarkan artikel ini

 

Tanjungpinang 20-1-2026

lprinews.com – Langit senja di tepi laut Tugu Sirih Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, berubah menjadi panggung budaya terbuka. Angin laut mengangkat puluhan layang-layang raksasa yang menari anggun di udara, menciptakan daya tarik wisata budaya yang memikat warga lokal hingga wisatawan dari berbagai daerah.
Di balik pertunjukan budaya langit tersebut, hadir sosok warga negara Singapura yang akrab
disapa “Angkel Hay”,
yang di bantu oleh pak Emi

Pak Emi sekaligus menerjemahkan bahasa cina menjadi bahasa Indonesia bahwa Angkel Hay tidak bisa Bahasa Indonesia
dan lebih dikenal masyarakat Indonesia dengan panggilan Angkel Hay Di usianya yang sekitar 70 tahun, Angkel Hay yang di bantu Pak Emi tetap setia merawat tradisi bermain layang-layang—sebuah warisan budaya yang telah ia tekuni sejak masa kanak-kanak.

Bagi Angkel Hay” layang-layang bukan sekadar permainan, melainkan ekspresi seni dan budaya yang melintasi batas negara. Koleksi layang-layang raksasa yang ia bawa ke Tanjungpinang mencerminkan kreativitas dan kearifan budaya pesisir, yang hidup berdampingan dengan alam dan angin laut.

Beragam bentuk layang-layang raksasa menghiasi langit Kepulauan Riau, mulai dari bentuk ikan lohan, ikan nemo,ikan pari ,terjun payung, sotong, hingga pesawat tempur dan bentuk anjing raksasa dengan ukuran spektakuler—panjang mencapai 50 meter dan lebar sekitar 15 meter. Selain koleksi jumbo,

tersedia pula layang-layang berukuran kecil sekitar setengah meter yang ramah bagi anak-anak dan wisatawan pemula.
Nilai ekonomi dari layang-layang ini pun beragam, mulai Rp150 ribu hingga Rp7 juta, bergantung pada ukuran, detail desain, dan kompleksitas pengerjaan. Setiap layang-layang membutuhkan teknik khusus dalam penerbangannya,

dengan tarikan benang yang disesuaikan dengan bobot dan karakter angin, menjadikannya sebuah atraksi yang memadukan seni, ketelitian, dan pengalaman.
Selama berada di Tanjungpinang dan wilayah Kepulauan Riau, Angkel Hay didampingi seorang penerjemah bahasa Indonesia yang membantu komunikasi dalam setiap aktivitas. Pendampingan ini memperkuat interaksi budaya dengan masyarakat lokal sekaligus membuka ruang dialog antara pelaku seni lintas negara.

Menariknya, penggemar layang-layang raksasa Angkel Hay banyak diminati dari luar daerah seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, yang sebagian besar merupakan hasil produksi Singapura. Fenomena ini menunjukkan bahwa layang-layang telah berkembang menjadi industri kreatif berbasis budaya, yang mampu menggerakkan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Daya tarik semakin terasa saat senja
Angel Hay yang di bantu Pak Emi setiap hari menaikan layang-layang mulai pagi pukul 07:00 sampai pukul 10:00
sore pukul 16:00 sampai pukul 10:30 malam tergantung cuaca dan angin nya
Layang-layang Angkel Hay dihiasi lampu warna-warni—merah, biru, kuning,

hijau, oranye, dan berbagai warna lainnya—yang berpendar di langit malam. Pemandangan ini menjadikan kawasan pesisir Tugu Siri sebagai destinasi wisata budaya bahari yang unik dan layak dikembangkan secara berkelanjutan.

Kehadiran Warga Negara Singapura yang di sapa Angkel Hay dan atraksi layang-layang raksasa di Tanjungpinang bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi simbol persilangan budaya dan pariwisata nasional, yang memperkaya khazanah wisata Indonesia. Tradisi sederhana yang terbang tinggi di

angkasa ini menjadi pengingat bahwa budaya dapat menjadi pintu masuk bagi promosi pariwisata daerah di tingkat nasional bahkan internasional.
Bagi yang minat atau mengundang untuk berbagai acara yang berhubungan layang-layang silahkan hubungi
No wa (082383985048)Ibu Emi
Tumarmi

Wartawan Kepri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *